Translate

Rabu, 24 April 2013

metode para sufi untuk mencapai ma'rifat


Metode para sufi  untuk mencapai derajat ma’rifat
(Studi Atas Karya Sudirman Tebba:Meditasi Sufistik)
Oleh
Fajar Chusnadi
Program Studi Akhlak dan Tasawuf
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUNAN PANDANARAN

PENGANTAR PERMASALAHAN
kehidupan spiritual selalu ditandai dengan meditasi[1],karena itu,meditasi merupakan kegiatan sehari-hari yang sangat menonjol di kalangan mereka yang menempuh jalan spiritual seperti tasawuf.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, meditasi adalah pemusatan pemikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Meditasi juga merupakan salah satu praktik mistis yang berkembang cukup pesat , ini sejalan dengan maraknya minat dan meningkatnya semangat kehidupan spiritual dan mistis dalam masyarakat.tasawuf atau mistisme islam sangat kaya dengan berbagai jenis praktik meditasi, seperti zikir,doa, wirid dan sebagainya.
Dalam dunia tasawuf sejak dulu sudah dikenal dengan berbagai medianya untuk mencapai derajat tertinggi, banyak dari ulama ahli tareqat yang memunculkan berbagai macam media agar bias mencapai   derajat tersebut, tujuan dari meditasi sendiri bermacam-macam,tergantung pada individu yang melakukanya.Di antaranya adalah mencari makna hidup,adapula yang mencari ketenangan pikiran dan perasaan sehingga bias hidup sehat dan bahagia, yaitu lewat berbagai edia salah satunya tasawuf.
Diantara metode beertasawuf adalah Muraqabah, berarti kewaspadaan dan perenungan kontemplatif, maksudnya,konsentrsi penuh waspada dengan segenap kekutaan jiwa ,pikiran dan imajinasi ,serta pemeriksaan yang dengannya sang hamba mengawasi dirinya sendiri dengan cermat.Selama muraqabahnya berlangsung sang hamba mengamati bagaimana Allah maujud dengan jelas dalam kosmos dan dalam dirinya sendiri.[2] Muraqabah juga merupakan kontinuitas pengetahuan ,kesadaran dan keyakinan seseorang bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi keadaan lahiriah dan batiniahnya.[3]Muraqabah sendiri memiliki tiga tingkatan , pertama ialah muraqabah menuju Allah secara terus menerus ,pengagungan yang mencengangkan, pendekatan yang memotivasi dan kegembiran yang membangkitkan.
Kata pengagungan yang mencengangkan disini mempunyai maksud terujinya hati karena keagungan Allah, dalam keadaan seperti ini seeorang akan bingung untuk mengagungkan selain-NYA,hatinya selalu bersama Allah, maka munculahrasa cinta antara hamba dengan Allah.[4] Selanjutnya adalah kata”pendekatan yang memotivasi” berarti pendekatan dan kedekatan yang membawa hamba menuju Allah,terus menerus dalam perjalanan ini,menghadirkan hati bersama Allah,mengagungkan Allah dan tercengang melihat-NYA hingga lupa kepada selain-NYA.Kedekatan itu membawa penempuh jalan rohani untuk melakukan pengagungan kepada Allah yang menjadikannya tercengang dan lupa kepada dirinya sendiri dan terhadap yang lain.Karena setiap kali bertambah kedekatannya dengan Allah, maka bertambah pula pengagungannya kepada Allah, dan semakin lupa dengan makhluk. Sedang kata “kegembiran yang membangkitkan” adalah kegembiraan .pengagungan dan kelezatan yang diperoleh dalam kedekatan dan pendekatan itu.Karena kegembiraan bersama Allah, keriangan bersama-NYA dan kesenangan bersama-NYA tidak dapat ditandingi dengan kenikmatan dunia macam apapun, tidak ada padanan yang dapat dijadikan pembanding , bahkan ini merupakan cirri orang yang masuk surga.Kegembiraan itu membangkitkan dan mendorong orang untuk terus menerus berjalan menuju Allah dan mengarahkan seluruh tenaga untuk mencari-NYA dan mencari ridha-NYA. Barangsiapa yang tidak mendapatkan kegembiraan ini dan tidak merasakan sedikitpun,maka hendaklah dia memperbaiki iman dan amalnya.[5]
Tingkatan yang kedua adalah adanya perhatian kepada Allah dengan menolak penentangan ,dengan berpaling dari protes dan menolak penonjolan diri.Muraqabah ini mengharuskan pemeliharaan tingkah laku lahir batin, dengan maksud menjaga tingkah laku lahiriah dan memelihara getaran hati,iradah dn gerakan batin.Dalam pemeliharaan batin,sseorang harus membuang sikap menentang Allah,sehingga batin menjadi bersih dari semua syahwat,dan iradah yang bertentangan dengan ajarannya,bersih dari setiap iradah yang bertentangan dengan iradah-Nya, bersih dari syubhat yang yang menentang khabar-Nya,dan bersih dari cinta yang menyingkirkan cinta-Nya.Itulah hakikat cinta yang sehat dan selamat,yang kelak tidak ada orang yang selamat kecuali orang yang dating kepada Allah dengan hati seperti itu, itulah hakikat pemurnian orang-orang abrar(orang-orang baik),muqarrabin(dekat Allah),orang arif(orang yang mengenal Allah)..tafakur, memiliki beberapa arti antara lain,teringat,terkenang,refleksi atau perenungan terhadap sesuatu.Tafakur berkaitan dengan nama-nama Allah,bukan zatnya,karena akar seluruh wujud adalah nama-nama Allah yang maha indah(asma’ al husna).Karena itu, dapat pula dikatakan bahwa tafakur merenungkan ciptaan Allah [6],kekuasaan-Nya di seluruh langit dan bumi.Tafakur termasuk wirid yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah,adapun kebaikan diseluruh
dunia ini juga tergantung bagaimana kualitas tafakur seseorang.[7]Zikir berarti mengingat, menyebut,mengucapkan,mengagungkan dan mensucikan, maksudnya adalah dengan mengulang-ulang salah satu nama-Nya atau kalimat keagungannya.Zikir yang hakiki ialah sebuah keadaan spiritual di mana seseorang yang mengingat Allah memutuskan segenap kekuatan fisik dan spiritual kepada Allah, sehingga seluruh wujudnya bias bersatu dengan Allah.[8]
Zikir juga dialami dalam banyak tataran,pada tataran yang paling luar,zikir merupakan penyebutan nama Allah secara berulang-ulang.Ini pada dasarnya merupakan praktik mekanis yang dilakukan dengan bersuara, menyebut nama suci atau membaca bacaan suci dengan atau tidak bersuara ,perhatian hati kepada nama suci tanpa mengucapkan nama itu.Penyebutan nama Allah secara berulang-ulang yang bersifat mekanis ini menciptakan saluran dalam hati wahana kesadaran yang sifatnya esoteric .Saluran ini merupakan saluran-saluran antithesis  yang diciptakan pikiran mekanis dalam benak. Kalau terus menerus melakukan praktik zikir kita tak akan menaruh perhatian pada proses berpikir yang tak ada ujung pangkalnya yang terus berlangsung dan kita akan memusatkan perhatian pada suatu titik.Hati merupakan wahana kesadaran dan memiliki lapisan-lapisan .Bila dilakukan terus menerus zikir akan masuk menembus lapisan demi lapisan  yang ada dalam hati, melalui zikir juga akan terjadi suatu proses semakin lapangnya hati  dan hati menjadi semakin bersih cemerlang ,sehingga hati menjadi tempat melihat  rahasia-rahasia esoteric.
Maqamat dan ahwal dalam tasawuf
Secara harfiah Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat kepada Allah.Dalam bahasa inggris Maqamat dikenal dengan istilah stages yang artinya tangga. Sedangkan dalam ilmu tasawuf maqamat berarti keddudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui Riyadhah, Ibadah, maupun mujahadah[9].Sedangkan Al Ahwal merupakan jamak dari kata tunggal ha}l yang berarti keadaan atau sesuatu (keadaan rohani)[10]. Hal atau akhwal merupakan keadaan mental perasaan senang, perasaan takut, perasaan sedih, dan sebagainya., Hal juga merupakan kedudukan atau situasi kejiwaan yang dianugrahkan Allah kepada seorang hamba pada suatu waktu, baik sebagai buah dari amal saleh yang mensucikan jiwa atau sebagai pemberian semata.Pada Istilah Maqam atau arti jamak adalah maqamat , sebagaimana juga ahwal, yang dipahami berbeda menurut para sufi.
Namun semuanya sepakat dalam memahami maqamat yang berarti kedudukan seorang pejalan spiritual atau sufi di hadapan ALLAH yang diperoleh melalui kerja keras dalam beribadah kepadaNya, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadah), serta latihan-latihan keruhanian budi-pekerti (adab) yang dapat membuatnya memiliki syarat - syarat dalam melakukan usaha - usaha untuk menjalankan berbagai kewajiban dengan baik dan mendekati sempurna. Sedangkan hal atau arti jamak adalah ahwal adalah suasana atau keadaan yang menyelimuti kalbu, yang diciptakan sebagai hak prerogatif pada Allah dalam hati setiap hambanNya, tidak ada sufi yang mampu merubah keadaan tersebut apabila datang saatnya, atau memperhatikannya apabila pergi.Meskipun pengertian dari Maqamat dan Ahwal ini pada dasarnya merupakan suatu kesepakatan atau persetujuan para kaum sufi, Mereka tentu saja adalah hasil ijtihad dan juga bukan dari bagian kepastian-kepastian dalam aturan Islam qath’iyyat. Karena hal itu, bukan hanya merupakan pengertian yang tidak dijumpai di kalangan di luar materi tasawuf, bahkan para sufi masing – masing berbeda-beda dalam perinciannya. Intinya adalah, macam-macam pengertian ini diperkenalkan dengan maksud sebagai bagian dari pentingnya disiplin dalam tasawuf, yang tujuan perjalanan spiritual , baik itu pemahaman tentang Allah, keridhaanNya, Cinta-Nya dapat dicapai dengan demikian, kesimpulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pemahaman mereka tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqamat dan ahwal dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika menempuh jalan spiritual. Dengan demikian, tidak semua pejalan spiritual harus mengikuti, menjalani, atau mengalami maqamat dan ahwal persis sebagaimana disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual. Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan keadaan hati dan ketinggian akhlak untuk meraih hal itu. Dan semuanya itu diyakini dibutuhkan upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu mujahadah serta latihan-latihan keruhanian riyadhah. Berbeda lagi dengan pendapat ulama tasawuf,mereka berpendapat bahwa seorang salik harus menempuh jalan-jalan sepertiTaubat ,dalam bahasa arab yang berarti “kembali” atau “kembali”, sedangkan taubat bagi kalangan sufi memohon ampunan atas segala dosa yang disertai dengan penyesalan dan berjanji dengan sunguh-sunguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut dan dibarengi dengan melakukan kebajikan yang dianjurkan oleh Allah.[11]
  Taubat sendiri menurut tareqat dadiriyah memeiliki makna yang hamper mirip dengan pengertian taubat di atas yaitu kembali kepada Allah dengan mengurangi ikatan dosa yang terus menerus dari hati kemudian melakukan setiap hak tuhan , pada intinya pendapat ini menekankan bahwa taubat itu tidak hanya di mulut saja , sementara hati tidak tidak mengikuti apa yang dikatakan oleh mulut,tidak bersungguh bermaksud untuk menghentikan perbuatan-perbuatan dosa itu,dan tidak melakukan tindakan nyata untuk menghentikannya.[12] Syaikh abdul qadir jaelani  menganggap taubat bagaikan air yang menghilangkan najis, begitu juga taubat menghilangkan dosa dan kotoran maksiat.Beliau berwasiat kepada anaknya , “wahai anakku ,janganlah kamu berputus asa untuk mendapatkan rahmat Allah dengan melakukan kemaksiatan ,tetapi basuhlah najis yang ada pada baju agamamu dengan air taubat, konsisyenlah terhapadnya ,dan ikhlaslah di dalamnya agar mendapat keberuntungan”[13],   beliau juga mambagi taubat menjadi dua macam yaitu Taubat yang berkaitan dengan hak sesama manusia ,taubat ini tidak terealisasi,kecuali dengan menghindari kedzaliman,memberikan hak kepada yang berhak,dan mengambalikan kepada pemiliknya.Taubat yang berkaitan dengan hak Allah , taubat ini dilakukan dengan cara selalu mengucapkan istighfar dengan lisan,menyesal dalam hati,dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.Sedangkan taubat menurut As syadzili  ialah kembali taat kepada Allah s.w.t dan menyesal dengan bersungguh-sungguh terhadap dosa yang telah dilakukan sama ada dosa besar mahupun dosa kecil serta memohon keampunan dari Allah. Setiap individu disuruh bertaubat untuk menyucikan diri dari dosa besar dan kecil, sama ada dilakukan dengan sengaja maupun tidak.Hukum bertaubat adalah wajib sama ada dosa kepada Allah s.w.t maupun dosa sesama manusia. Jika dosa itu berkaitan dengan manusia, hendaklah meminta maaf daripada manusia tersebut. Sekirannya dosa berkaitan dengan harta benda, hendaklah dikembalikan harta tersebut kepada tuannya. Bertaubat kepada Allah hendaklah dilakukan dengan bersungguh-sungguh dan hati yang ikhlas kerana taubat yang tiada keikhlasan tidak mendatangkan apa-apa kesan terhadap individu terbabit. Taubat yang terbaik adalah taubat yang penuh penyesalan, keinsafan dan rasa rendah diri kepada Allah s.w.t.
[14]. Di dalam pembahasan  mengenai zuhud, dalam hal ini syaik Abdul qadir jaelani berpendapat bahwa zuhud merupakan gambaran tentang menghindari dari mencintai sesuatu yang menuju kepada sesuatu yang lebih baik darinya,atau dengan istilah lain,menghindari dunia karena tahu kehinaanya bila dibandingkan dengan kemahalan akhirat, beliau juga membagi tingkatan-tingkatan zuhud menjadi dua bagian,yaitu zuhud hakiki(mengeluarkan dunia dari hatinya) dan zuhud lahir(mengeluarkan dunia dari hadapannya),Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang zahid hakiki menolak rezeki yang biberikan Allah kepadanya. Tetapi dia mengambilnya lalu digunakan untuk ketaatan kepada Allah.Zuhud memang membawa kesucian kepada diri si Salik. Zuhud memang mengajarkan betapa si Salik harus menahan hawa nafsu serta menolak semua tuntutanya.Kita tahu bahwa dalam berbagai hal,hawa nafsulah puncak segala kecelakaan diri ,baik di dunia,terlebih lagi di akhirat. Oleh karena itu ,nafsu tidak boleh dijadikan sebagai teman ,justru harus dianggap sebagai lawan dan pembinasa manusia.[15] Berbeda lagi dengan pendapat AL ghazali dan AL Qusyairi, imam ghazali berpendapat bahwa zuhud sebagai sikap mengurangi keterikatan pada dunia untuk kemudian menjauhinya dengan penuh keadaran, sedangkan qusyairi berpendapat bahwa zuhud sebagi sikap menerima rezeki yang diterimanya, jika makmur ia tidak merasa bangga dan genbira.Namun, apabila miskin ia pun tidak bersedih, lain halnya dengan pendapat Hasan basri  yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan kehidupan dunia karena dunia ini tidak ubahnya seperti ular ,licin apabila dipegang ,tetapi racunnya dapt membunuh .[16]Kendatipun didefinisikan dengan redaksi yang berbeda ,inti dan tujua zuhud sama, yaitu tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Kekurangan dan kelebihan buku
Tidak dipungkiri bahwa tidak ada penciptaan yang sempurna kecuali penciptaan makhluk yang diciptakan Allah. Termasuk buku karya sudirman tebba ini, mgkin bagi individu yang sudah biasa berkecimpung di dunia tasawuf akan merasa bahwa buku ini sudah bagus,karena di jelaskan dengan singkat dan laangsung”menusuk”, tapi bagi mereka yang pemula akan terasa kurang bias mengikuti, bagaimana tidak.di buku tersebut menjelaskan tasawuf dari awal kemunculannya sampaipembagian dan perkembangannya,memang pemetaan pembahasan bagus, tapi ada kekurangannya, buku ini menjelaskan sejarah muncul dan tiba-tiba  langsung membahas bagaimana proses atau fase-fase dari tasawuf sendiri sehingga bias terpecah atau berkembang seperti.tasawuf,burhani, falsafi dan irfani.Mugkin sebaiknya penulis lebih memperhatikan lagi dalamu membuat karya yang akan dibaca orang banyak, terutama bagi pelajar pemula yang mempelajari disiplin ilmu ini. Semoga menjadi pertimbangan yang bias diterima .


.KESIMPULAN
Berbagai jalan dan metode untuk mencapai derajat tertinggi dalam tasawuf  telah banyak di cetuskan oleh ulama ahli tasawuf klasik dan terkini, semua hasil pemikiran itu tetap menuju dalam satu tujuan yaitu sampai kepada Allah. Dengan berpegang pada hasil ijtihad para ulama dan ajaran agama islam kita dituntun menuju manusia yang sempurna(insane al-kamil) yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, akan tetapi kita diajarkan bahwa dunia ini hanya sebagai perantara atau tempat kita “bercocok tanam” yang hasilnya akan kita nikmati di kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan yang kekal di akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Tebba,Sudirman, meditasi sufistik, Banten:Pustaka Irvan,2004
Mulyati,Sri,tarekatmu’tabarah,Jakarta:Kencana,2004
Anwar,Rosihon dan M.Sholihin,ilmu tasawuf,Bandung:Pustaka Setia,2008
Winston,James (editor),Sufi-sufi Merajut Peradaban,terj. MB.Badruddin Harun dan Audiba  
T.Suwarso,Jakarta:Forum Bangsa,2002
Smith,Huston(editor),Agama-agamamanusia, terj.Saafroedin Bahar,Jakarta:Yayasan Obor    
Indonesia,2001








[1] Sudirman tebba.meditasi sufistik.ciputat; pustaka hidayah.2004.hal.1
[2] Huston Smith.Agama-agamamanusia.jakarta;yayasan obor Indonesia.2001.hal28
[3] “ketahuilah bahwa Allah tahu apa yang terkandung dalam hatimu(Al baqarah;235).
”allah mengawasi segala sesuatu “(al ahzab;52)”allah mengetahui lirikan mata yang khianat dan segala yang disembunyikan dalam hati”(al mu’min;19)
[4] Sudirman Tebba.meditasi sufistik.Banten;Pustaka Irvan.2004.hal .14.
[5] “orang yang bias menikmati rasa iman adalah orang-orang yang rela Allah sebagai tuhannya,islam sebagai agama dan Muhammad sebagai utusan Allah”(HR Muslim dan Ahmad) dalam buku “meditasi sufistik” karya Sudirman Tebba. Banten; pustaka irvan.2004.hal .15.
[6] “tiadakah mereka merenungkan diri mereka sendiri? Allah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada diantara keduanya,semata-mata dengan tujuan yang benar,dan untuk masa yang ditentukan ,namun sungguh,kebanyakan orang mengingkari pertemuan dengan tuhannya”( Ar-rum 30;8).dalam buku karya sudirman tebba.meditasi sufistik.banten; pustaka irvan.2004.hal.67.
“dan ialah yang membentangkan bumi,menancapkan diatasnya gunung-gunung, dan mengalirkan sungai-ungai,dan setiap jenis buah-buahan, dijadikannya di dalamnya berpasang-pasangan ,ditutupkan-Nya pada siang,sungguh dalam semuanya itu ada tanda-tanda bergantung kekuasaan Allah ,bagi kaum yang menggunakan pikiran”.dalam buku karya sudirman tebba.meditasi sufistik.banten;pustaka irvan.2004.hal.68.
[7] Sayyid Abdullah Haddad”kebaukan di dunia dan agama pada kesempurnaan tafakur,siapa saja yang melakukannya dengan baik sungguh ia telah beroleh bagian kebaikan yang amat besar” dalam buku meditasi sufistik . sudirman tebba.banten; pustaka irvan.2004.hal.65.
[8] Sara Saviri”zikir merupakan praktik sekaliguss keadaan esoteric yang mengandung paradox,karena sekalipun zikir berarti ingat, tetapi pengamalan puncak puncak yang dituju praktik zikir merupakan lupa segalanya kecuali Allah. Dalam keadaan segenap perhatian tercurah kepada menyebut nama Allah, segalanya hilang dari orbit persepsi  dan imajinasi” dalam buku karya sudirman tebba.meditasi sufistik.banten;pustaka irvan.2004.hal.79.
[9] Sri mulyati. tareqat mu’tabarah .jakarta; kencana.2004.hal.4
[10] syekh Abu Nash As- sarraj sesuatu yang terjadi yang mendadak yang bertempat pada hati nurani dan tidak bertahan lama”.dalam buku karya sri mulyati.tareqattareqat mu’tabarah.jakarta;kencana.2004.hal.6
[11] M.solihin dan Rosihin anwar.ilmu tasawuf.bandung;2008.hal.78.
[12] Sri mulyati.tarekat mu’tabarah.jakarta;kencana.2004.hal.38
[13] “dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung”(At-taubah;31) dalam buku tareqat mu’tabarah karya sri mulyati. Jakarta;kencana.2004.hal.39.
[14]Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20) .muslim.org. akses. 12/11/2012


[15] Sri mulyati.tareqat mu’tabarah.jakarta;kencana.2004.hal.40.

[16]  M.solihin dan Rosihin anwar.ilmu tasawuf.bandung;2008.hal.79.